News

Selasa, 06 Mei 2025

Menanti Kebijakan Gubernur Helmi Hasan: Fokus pada Infrastruktur dan SDM untuk Bengkulu yang Lebih Maju

 

Penulis:

Hairiyanto, M.Pd

Dosen Bahasa Inggris STIESNU Bengkulu

 

Sejak tanggal 20 Februari 2025 Helmi Hasan, SE secara resmi mengemban amanah sebagai Gubernur Bengkulu untuk periode 2025-2030. Setelah melalui proses panjang mengikuti tahapan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur serantak tahun 2024, maka pasangan Helmi Hasan, SE - Ir. Mian lah yang menjadi pemenang dalam Kontestasi pesta Demokrasi lima tahunan ini.. Dengan penuh rasa suka cita, ucapan selamat dan sukses berhamburan dari para tim sukses, para pendukung dan pengusung, serta huforia masyarakat Bengkulu secara keseluruhan, mengiringi langkah Pak Helmi-Mian berdiri di hadapan Presiden Prabowo untuk mengangkat sumbah jabatan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi Bengkulu.

Bapak Helmi Hasan, memimpin provinsi untuk 5 tahun yang akan datang, tentu  dengan membawa harapan besar dari masyarakat untuk membawa perubahan yang signifikan dan lebih baik dari yang sebelum nya. Segala bentuk Program dan Janji semasa kampanye tentu di nanti relaisasinya oleh Masyarakat, pak Gubenur melalui jargonya "Bantuu Rakyat" akan mengerahkan segala kemampuan dan potensinya, mewujudkan harapan besar masyarakat tersebut.

Dua sektor krusial yang membutuhkan perhatian serius dan kebijakan yang terarah adalah pembangunan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Keduanya merupakan fondasi utama bagi kemajuan dan kesejahteraan Bengkulu di masa depan.

Dalam hal infrastruktur, Provinsi Bengkulu yang terbentang dari Kabupaten Kaur Hingga Kabuoaten Mukomuko ini memiliki tantangan yang tidak sedikit. Kondisi jalan rusak parah dan belum sepenuhnya memadai, keterbatasan akses terhadap sumber air bersih dan sanitasi layak di beberapa wilayah, serta infrastruktur pendukung sektor-sektor ekonomi seperti pertanian dan pariwisata masih memerlukan pembenahan dan pengembangan. Kebijakan yang berani dan inovatif dari Gubernur Helmi Hasan diharapkan mampu mengakselerasi pembangunan infrastruktur secara merata di seluruh kabupaten/kota. Prioritas perlu diberikan pada proyek-proyek strategis yang memiliki dampak langsung terhadap peningkatan konektivitas antar wilayah, mempermudah aksesibilitas layanan dasar, dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Investasi yang cerdas dalam infrastruktur, baik melalui APBD maupun menarik investasi dari pihak swasta dan pemerintah pusat, akan menjadi kunci untuk membuka potensi Bengkulu yang lebih besar.

Penuntasan berbagaimacam peroalan yang menerpa Propinsi Bengkulu hari ini, seperti Kelangkaan BBM akibat pendalan pelabuhan Pulau Baai, yang berujung sulitnya mendapatkan BBM di Provinsi Bengkulu secara keseluruhan, di tambah lagi harga BBM yang terlalu tinggi yang di jual oleh masyarakat di pinggir jalan, menambah jeritan masyarakat yang lebih keras.

Rusaknya jalan lintas antar Propinsi dan Kabupaten Kota di hampir sepropinsi Bengkulu, Mulai dari kabupaten kaur, Manna, seluma, Bengkulu Utara dan Mukomuko, jalan nya rusak dan memprihatinkan.

Kemudian juga keluhan masyarakat terhadap sulit dan mahalnya gas ELPG 3 Kg, jika pun ada di jual di warung-warung, tentu harganya sudah sangat mahal hingga 30-40 ribu rupiah. Tentu sebagian persoalan ini, di tunggu dan di nantikan penyelesaianya oleh masyarakat propinsi Bengkulu.

Di sisi lain, pembangunan SDM juga memegang peranan yang sama pentingnya. Kualitas SDM Bengkulu akan menentukan daya saing daerah dalam menghadapi tantangan worldwide dan memanfaatkan peluang yang ada. Kebijakan yang fokus pada peningkatan kualitas pendidikan di semua tingkatan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, perlu menjadi prioritas. Selain itu, pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi angkatan kerja juga krusial untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja yang berkualitas. Inisiatif yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri lokal, serta program-program pemberdayaan masyarakat yang mendorong kreativitas dan inovasi, diharapkan dapat melahirkan SDM Bengkulu yang unggul dan berdaya saing.

 

Tentu saja, pembangunan infrastruktur dan SDM tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Keduanya saling terkait dan memperkuat. Infrastruktur yang baik akan mendukung aktivitas ekonomi dan sosial, termasuk pendidikan dan pelatihan. Sementara itu, SDM yang berkualitas akan mampu mengelola dan memanfaatkan infrastruktur yang dibangun secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, kebijakan yang terintegrasi dan holistik, yang mempertimbangkan sinergi antara kedua sektor ini, akan memberikan dampak yang lebih ideal bagi kemajuan Bengkulu.

 

Masyarakat menantikan visi dan langkah nyata dari Gubernur Helmi Hasan dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan yang berpihak pada pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan pengembangan SDM yang berkualitas. Harapannya, dengan fokus dan kerja keras, Bengkulu dapat meraih kemajuan yang signifikan dan meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakatnya. Waktu akan menjawab bagaimana kebijakan-kebijakan yang diambil akan membawa perubahan yang dinanti-nantikan ini. 

AKHLAK YANG TERDEGRADASI, MEMICU KEMUNDURAN SISTEM PENDIDIKAN

 



Penulis:

Hairiyanto, M.Pd

Dosen Bahasa Inggris STIESNU Bengkulu

 

Menarik membaca sebuah artikel yang di terbitkan di Kompasiana.com pada 19 september 2021 yang berjudul “Degradasi Akhalak, Dilema Pendidikan Di Indonesia” oleh Kompasiana tidak di sebutkan penulisnya siapa. Terlepas dari siapa penulis artikel itu, saya merasa nyaman dan menarik saja membacanya.

Tulisannya enteng, terstruktur dan mengandung nilai keprihatinan yang teramat dalam terhadap kemunnduran pendidikan di Indonesia.

Penulis artikel itu membuka pemikiran pembaca dengan menyuguhkan tujuan pendidikan di dalam Sisdiknas, dimana tertulis bahwa tujuan pendidikan nansional bermuara pada aspek keimanan dan akhlak.

Dengan harapan bahwa salah satu tujuan bersama dari proses terselenggaranya pendidikan itu adalah membaiknya akhlak peserta didik.

Apakah itu membaiknya akhlak pada Tuhannya, akhlak pada sesama, maupun akhlak pada alam semesta ini.

Di sinilah kegundahan penulis itu bermuara, antara apa yang telah menjadi tujuan pendidikan nasional yang telah di tetapkan, dengan kenyataan yang di hadapi dalam keseharian jauh berbeda.

Sisdiknas menghendaki para peserta didik memiliki keimanan dan akhalak yang mulia. Melalui perangkat yang ada, seperti tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, sarana yang menunjang, kurikulum yang tertata rapi, sehingga memiliki singkronisasi terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang di kehendaki oleh sisdiknas itu sendiri.

Namun kenyataannya, terjadi perubahan dan pergeseran nilai pada peserta didik, termasuk perubahan paradikma tenaga pendidik itu sendiri.

Murid kita hari ini, tidak lagi memiliki sopan santun maupun tatakrama yang baik kepada gurunya, meskipun tidak semuanya.

Murid yang hari ini, tidak lagi menganggap serius ketika guru-gurunya memberikan nasehat, memberikan motivasi, menanamkan nilai-nilai sipiritual kepadanya.

Bahkan sering terjadi di kalanagan murid mebully guru-gurunya yang mereka anggap, sok disiplin, sok rapi, sok memberi nasehat dan lain sebagainya.

Atau bahkan secara terang-terangan menantang guru-gurunya, jika mereka anggap sudah menyangkut Hak Azazi Manusia, tidak segan-segan gurunya harus berurusan dengan pihak penegak Hukum.

Siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab terhadap hal ini..? ya kita semua. Gurunya, murid nya, orang tuanya, juga termasuk tanggung jawab pemerintah kita.

Jika system pendidikan nasional kita lebih mengutamakan penanaman nilai-nalai sipiritual, yang di barengi dengan persiapan mental dan akhlak, kemdian guru-gurunya menjiwai pekerjaan sebagai guru, pemerintah mengambil peran yang begitu luas, insya Allah, Degradasi ini, secara perlahan bisa bangkitkan kembali.